Dewi Sandra
Kalau anda aktif mendengar radio atau streaming (internet) channel radio, anda mungkin sesekali, bisa jadi amat sering, mendengar suatu lagu yang masih sangat baru, diputar. “Buktikan”, yang diarransement ulang Oxavia Aldiano (lebih dikenal dengan Vidi Aldiano). Bersama Tiara Andini (lulusan Indonesian Idol).
Lagu ini cukup lawas karena (saya sampai harus gugling untuk tahun--bukan penyanyi) lagu aslinya dinyanyikan 2007. Saya yakin betul saat masih baru banget ngampus, ini termasuk sering diputar swaragama fm, saya yakin ini sempat dipesan banyak warga Yogya dan diputarkan oleh (salah satunya, ibu-ibu muda saat ini) Fachnia yang kini di Jepang.
Saya tidak perlu me-gugling. Lagu ini awalnya dinyanyikan Dewi Sandra Killick dengan salah satu personel band Pasto (namanya Nyong Rayendie Ponio, lebih dikenal dengan Rayen). Saya membayangkan betapa saya sepertinya udah tua banget dengan kenyataan Pasto “udah ada” sejak 2005 sebetulnya. Tapi saya masih sering dipanggil dek dibanding Pak---mudah-mudahan wajah saya benar-benar awet muda. Bukti bahwa ini lagu 2007, silakan klik ini:
https://id.wikipedia.org/wiki/Star_(album)
Vidi-Tiara bener-bener bagus menyanyikan ulang. Anda akan melihat di youtube bahkan tidak ada video klip resmi Dewi Sandra dan Rayen Pono. Tapi saya masih bisa menggambarkan video klip itu. Benar-benar Dewi Sandra dan Rayen Pono saling menatap gitulah. Anda akan menyaksikan, kemungkinan besar, Gap (bagi saya) mengerikan betapa timpangnya usia 90an dengan kelahiran 2000 keatas. Banyak kelahiran 2000 keatas bahkan tidak pernah tahu seberapa hebat (dulu banget) Dewi Sandra Killick (dulu banget) saat nyanyi. “TIARA nih”, apalah-apalah komen di YouTube saat lagu BUKTIKAN untuk versi Dewi Sandra-Rayen Pono. Benar-benar gap yang bagi saya ---- mengganggu. Benar-benar mereka gatau ya dulu Dewi Sandra seperti apa. Atau mungkin gegar ini karena saya lama sekali tidak menyaksikan televisi terestrial, sementara YouTube dipenuhi orang-orang Indonesia yang segmennya “tontonan TV terestrial banget”.
Like… time machine.
Meski Vidi-Tiara amat bagus, saya jelas sekali lebih suka versi orisinilnya, yang “sangat-sangat R&B banget” dari Dewi Sandra-Rayen.
Banyak hal berkelindan satu sama lain, entah di stories IG, termasuk saat saya mengklik link wikipedia diatas. Bahkan laman wikipedia diatas menjembatani betapa begitu banyak berubahnya berbagai hal.
Dewi Sandra (dalam link wiki diatas) belum berjilbab sama sekali. Saya tidak akan menggugling lagi. Tapi saya tebak ini (2007) dirinya sudah dengan Surya Saputra, tapi belum dengan suami saat ini Dewi Sandra (nama: Agus Rahman---saya ga perlu gurgling kalau ini).
Saya salut betul dengan pergulatan batin Dewi Sandra---saya pernah menangis, suatu waktu acara Ramadan gitulah tentang Dewi Sandra itu sendiri.
Dirinya dari Brasil. Negara karnaval. “Aurat dimana-mana”, seloroh Dewi Sandra. Diluar konteks acara ramadan itu, salut saya pada Dewi Sandra bukan karena dirinya Muallaf dan bukan karena dia berjilbab. Tapi bagaimana dirinya tidak pernah sama sekali mengutuk atau marah pada agama dan masa lalunya. Dan atau, menjadi “ultra agamis” seperti tren selebritis yang sering disebut “salah hijrah”. Menjadi amat beragama tapi kemudian secara aktif mencerca nonmuslim dan atau agresif membangun stigma “holier than thou”. Anda pasti tau betul banyak orang-orang “salah hijrah”. Saya tidak pernah sekalipun mendengar Dewi Sandra seperti itu, meski dirinya amat religius-salehah.
Kalau anda mengklik “Buktikan - Dewi Sandra” di YouTube, anda akan menemukan pula video-video lain, utamanya (yang paling menarik) saat Dewi Sandra bernyanyi dengan (alm) Glenn Fredly. Anda akan melihat betapa kontrasnya video itu dengan “Dewi Sandra” saat ini. Dan saya salut bahwa dia ikhlas melepas segala hal-hal yang glamor.
Tanpa harus me-gugel, saya tahu cobaan yang dijalani Dewi Sandra: belum punya momongan. Melepas segala materi duniawi sejak lama banget, dan kini dirinya sabar tidak kunjung mendapat momongan. Saya membayangkan betapa legawa-nya Dewi Sandra menjalani hidup yang “tidak cukup sempurna” sebagai perempuan, padahal dirinya sudah bertaubat.
--------------------
Kenapa tiba-tiba saya menulis substack ini? Ya, memang tidak murni bahwa radio memutar “Buktikan” versi Vidi-Tiara. Tapi apa yang saya jalani, apa yang begitu berubah, dan bagaimana saya merasa tidak berubah apapun, meski juga tidak menjadi mati/sakit misalnya. Pergulatan tentang syukur sebetulnya.
Baru 20 menitan sebelum substack ini ditulis, saya baru selesai menulis paper amat rumit: membayangkan masa depan 30 tahun kedepan. Hal itu “koq ndilalah” berkelindan dengan 1-2 pekan ini bolak-balik saya membaca stories IG teman saya, Doris. Dulu betul, sekitar 2010, kami berkompetisi tentang (juga sama) membayangkan Indonesia bertahun-tahun ke depan.
Amat rumit karena saya setidaknya merasa harus berkonsultasi dengan dua orang: teman lama di Semarang, yang amat paham astronomi (dari sudut pandang apakah dunia kena asteroid atau ala-ala interstellar) dan (input) kolega lain di Selandia Baru. Saya memang tidak pernah lepas untuk menulis-terpacu menjelaskan.
Tapi saya menyadari hal lain. Masih seperti saat saya melihat Doris. Punya suami dan anak. Saya belum banget. Saya melihat sebelah-sebelah saya. Bisa jadi punya 4-5 anak dengan kelahiran tahun seperti saya.
Yang tadi hampir membuat ambang mata saya mencair: story lain. Teman dekat saya bernama Dewa. dirinya sama seperti saya: tahun HI yang sama, dan merayakan bayi dalam perut teman lainnya pada story IG nya 4 jam lalu.
“Aku ikut mendoakan dalam salat, untuk kandungan kamu dan kamu beserta suami, Be”.
-----------------
Saya ga yakin bagaimana pergulatan batin satu sama lain dijalani dan dimaknai. Pokoknya saya menangis saat melihat semacam titik balik (biasanya 30 menit) kisah hidup Dewi Sandra, biasanya acara ginian 30 menitan di saat Ramadan (saya lupa tahun persisnya ramadan dimaksud ini). Betapa kita harus banget-banget bisa melupakan apapun dan melepaskan apapun. Saya masih berusaha kerja keras merelakan apapun, dengan segala kekurangan saya. Mungkin Tuhan menampar saya dengan munculnya “Buktikan” ini: bahwa ada orang yang jauh lebih banyak-banyak banget kehilangan macem-macem (Dewi Sandra) bisa ikhlas, kenapa kamu (Prada) gabisa niru?
Saya kembali ke teman lama Semarang. Dia amat kaya, lebih tua berbulan diatas saya. Hampir mungkin kami bisa saja dilahirkan di RS yang sama di Semarang. Saya belajar banyak banget dari dirinya tentang kepasrahan dan menjalani “hidup tetap baik-baik saja” meski lajang. Dirinya jauh lebih mudah mencari perempuan: udahlah lulusan tim olimpiade, cakep, kaya dari keluarganya, kerjaan mentereng. Tapi dirinya amat rendah hati (saya berusaha bikin substack terpisah tentang ini) dan mengakui bahwa dirinya mengalami banyak pergulatan batin yang --- bagi saya jauh lebih filsafatik”. Salah satu potongan chat kami begitu kuat banget bagi saya, dari teman saya:
“no need to rush, aku lebih ngeberatin nostalgianya”.
Mungkin karena dia juga amat membatasi pertemanan, maka dirinya berusaha menjembatani sekuat mungkin “teman Semarang-nya”. Kami berusaha berkumpul dengan sesama “Semarang” lainnya, untuk “ngeberatin nostalgia”.
Hal yang secara tidak langsung kini saya jalani. “Membatasi pertemanan”. Saya betul2 memangkas pertemanan, setelah kejahatan yang saya alami-dikeroyok bertahun-tahun.
--------
Saya ga kurang-kurang amat, meski tentu tidak sama sekali berlebih. Jauh lebih sering amat minus. Tapi ditengah segala kesulitan, saya masih punya rumah sendiri misalnya dengan segala furniturnya. Hal yang amat saya rapal syukur berulang.
Saya bahkan masih sangat mungkin kapanpun saya suka dan nawaitukan kemana saja. Misal, menjenguk teman tiba-tiba meski jelas akan berisiko telat terbang. Saya bahkan masih sanggup merawat dan menolong keluarga lain----yang jelas crazy rich di menteng misalnya.
Buktikan.
Dulu banget saat kuliah saya berusaha banget-banget membuktikan mencintai temannya Kak Dewa. Meski beda agama. tapi gagal.
Kini saya berusaha membuktikan mencintai orang lain.
“Gimana caranya membuktikan kepada crazy rich ini yah, padahal saya ga sanggup macem-macem”.
Ya begitulah.
Really beautiful song, Mba Dewi Sandra. Alfatihah. Semoga dapat momongan, amin…….


