Kado
Enggak semua-muanya harus direkam di hp atau diinstastory. Kalau emang momen itu beneran indah, rekam sebaik mungkin di memori hati. The moment is perfectly enough. (Adjie San–ahli yoga dan meditasi).
Kurang lebih begitu.
Untuk pertama kalinya, substack ini ga akan memasang foto.
—-
Seorang teman saya keguguran bayi kembar (salah satunya), dan kejadiannya kira-kira di tanggal lahir saya. Saya ga yakin pasti, karena bahkan teman saya cuma mengira-ngira. Jadi kami berempat. Pertemanan kampung di Yogya. Satu laki-laki dan 3 orang perempuan. Sebetulnya 3 perempuan ini penghuni “asli” suatu kampung—dan kebetulan “ketambahan 1 laki-laki” pendatang.
Tanggal saya lahir berulang kali menjadi titik sedih justru bagi “pertemanan kampung”. Pertama saat 2018. Diantara “pertemanan berempat” ini mengabari 3 hari setelah saya ultah, bahwa dia terlambat menyampaikan ultah karena anaknya wafat di RS. penyakit langka.
Teman saya ini, tahun ini juga telat menyampaikan ultah ke saya–karena sibuk menolong teman satunya lagi yang (tahun ini) keguguran salah satu bayi kembarnya. Saya sedih banget-banget-banget-banget teman-teman terdekat seperti ini justru mengalami hal-hal menyayat hati, dan koq ya ndilalah saat saya ultah. Bayi satunya lagi (dalam kandungan) alhamdulillah tetap selamat dan lahir sehat.
—---------
Saya memang selalu berusaha membuat kado—atau mengusahakan kado, disaat yang (mungkin) jika orang lain berada di posisi saya akan merasa mustahil. Itu terus berlanjut dari zaman kuliah sampai sekarang. Terlalu berulang, terlalu sering. Terlalu disebut mustahil, makin saya mengusahakan bener-bener tercipat kado dan terantar.
—
Dengan senyum senang dibawah lampu jalan, kira-kira 1 jam sebelum 00.01, teman saya berfoto. Sangat mungkin ga mengira Prada mengirim kado. Mungkin pengantarnya sendiri malah senang karena bertemu orang terkenal.
I really thought “kenapa kado yang ini benar-benar membuat bahagia, tapi kado jam 9-an pagi pada 20 April, malah membuat sedih dan runyam ya? Apakah harusnya aku mengirim benar-benar jam 00 pada 20 April—perempuan tercantik yang pernah aku lihat dan–seruangan kuliah?”
Sehat-sehat temanku dan keluarganya. sehat-sehat kalian bertiga, “pertemanan berempat” bersama keluarga masing-masing.iyalah, cuma aku yang belum punya keluarga sendiri. salah satu teman saya diantara ini tertawa amat lebar saat saya bilang: “kamu punya 3 anak, temannya ******** punya 2 anak, tapi aku dan ******** malah belum menikah, mengsedihhh”

