Kartel Medik
“Para dokter dari IDI mendatangi Panglima TNI, untuk menjelaskan perihal pemecatan Dr Terawan. IDI mendatangi karena dr Terawan amat dekat dengan militer dan dokter di RSPAD, sehingga IDI merasa perlu datang ke kantor Panglima TNI.”
Saya memegang kepala (ala-ala tim sepakbola kalah) dan ga habis pikir. Saya melihat berita itu, berita relay/recorded news, ditayang kira-kira jam 1 pagi. Saya sedang di rest area dengan bawahan saya (sopir untuk angkut2 instalasi pabrikan, karena saya harus ikut inspeksi) di suatu rest area, sekalian sahur.
Saya ga kebayang disaat makin rendahnya kematian karena covid (*entah apa yang terjadi, karena China lagi gila-gilaan berperang covid), permusuhan antara dokter-dokter di Indonesia meruncing. Saya tentu juga mendapat info-info dari teman baik saya yang saudaranya dokter. Dan banyak sekali “she said, he said” tentang (perkelahian) ditengah dunia kedokteran.
Yang jelas vaksin dulu sekali amat sulit dipastikan keampuhannya. Bahkan dulu Dolly Parton, artis amerika, tergugah menyumbang 1 juta dollar untuk riset kepada perusahaan MODERNA terkait pengembangan vaksin.
Then, tentu saja karena Pfizer, Moderna, AZ cukup mahal, Indonesia nyaris kita-kira 90-94% vaksin covidnya adalah dari China: Sinovac. Saya lihat sendiri betapa mualnya ngeliat orang2 kaya yang sok-sokan posting “gue beli aja sendiri MODERNA” tthen kedapatan dia, seluruh keluarganya, bahkan duluan dapat vaksin, bahkan saat masih tahap/giliran hanya untuk Lansia. bnyak, terlalu banyak sampah-sampah masyarakat bernama orang kaya yang ngocehnya super jahat.
Then, anda bisa melihat berbagai note COVID saya: vaksin terbaik adalah vaksin yang ada, ga usah pilih-pilih. Suatu waktu seleb Sonia Eryka resah dengan sikap/perilaku dokter yang kadang “grope, voyeur, menyentuh hal-hal terlarang” dan atau secara perkataan amat judgmental. Saya membantu dia mengetik ulang berbagai dokter rekomendatif dari banyak sekali orang. Dan tetap saya seleksi ulang, me-recheck keabsahan input tesrebut. Link (awalnya) open source banget, entah berapa puluh ribu rewteets.
Tahukah bahwa baru hari ketiga, data sheet sampai 500+ nama dokter yang saya kurasi, lenyap, dan sampai 3 email saya dirusak. Benar-benar idak bisa dipulihkan. Saya akhirnya menyusun ulang (bisa minta ke saya—clik ini) dan membuat link nya menjadi lebih (semi) close agar tidak ada lagi peretasan. Saya mafhum sekeras itu ternyata optional dokter/highlight-ing dokter sehingga saat orang2 biasa menyuarakan “yang ini jelek kak, saya percayanya dokter yang ini” (dan saya kroscek berlapis), didata ulang, data tersebut sampai merasa perlu diremuk.
Tapi Indonesia bahkan pernah punya “Dua DPR” di 2014. Saya harusnya ga kaget jika terjadi perkelahian “Dua Kubu Dokter”. Lha 2 pekan lalu juga gebuk-gebukan antara Pengacara dan bikin “Ikatan tandingan” juga.
Memang Indonesia suka sekali berkelahi. Tapi memang lebih baik berkelahi dibanding bersekongkol/berkartel dan rakus memperkaya diri, bukan.








