Mengantar Laut
(cerita ini pertama kali ditulis/diciptakan oleh Faizal Reza. seorang pekerja digital agency dan pengamat/sineas film. re-substack karena ceritanya bagus)
“Cara gampang pindah agama adalah pura-pura kehilangan KTP, urus surat kehilangan ke kantor polisi, lalu bawa ke kelurahan buat syarat bikin KTP baru. Minta petugas kelurahan buat ganti kolom agama.” — Hasan Ular
Aku tak kenal Hasan Ular, apalagi percaya dengan kalimatnya. Nama Hasan Ular pun menurutku kurang meyakinkan. Tapi tidak demikian dengan Laut, sahabatku yang namanya sangat indie itu.
Laut itu sahabatku sekost semasa kuliah. Jika kubilang “semasa kuliah”, itu artinya sekitar tujuh atau delapan tahun lalu. Saat kamar kami masih berhadap-hadapan. Di sebuah rumah kost sederhana berkamar sembilan, cuma punya dua kamar mandi, dan hampir setiap hari memutar lagu-lagu album Various Artist dari KFC.
Itu adalah waktu kami masih sama miskinnya, sama naifnya, sama tololnya, dan sama brengseknya. Bedanya hanya Laut setengah tingkat lebih taat beribadah daripada aku. Pernah ada saatnya, di sebuah malam yang patah hati kami mabuk campuran vodka Topi Miring dengan Fanta Anggur hingga jackpot dan sempoyongan tak bisa jalan. Namun pagi buta esok harinya sudah kulihat Laut salat Subuh di ruang tengah rumah kost yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga itu.
Laut tak percaya hadits yang bilang peminum khamar atau minuman keras tak diterima sembahyangnya hingga 40 hari. Ia lebih meyakini pendapatnya sendiri yang entah dari mana dan apa dasarnya. Bahwa Tuhan mengampuni dosa sebesar apa pun. Bahwa dosa dan ibadah itu dua hal beda. Maka perkara malamnya mabuk paginya salat, malam zina pagi salat lagi, atau pergi jumatan ke masjid seinginnya sesempatnya tanpa peduli “tiga kali absen jumatan berarti murtad” adalah hal biasa baginya.
Aku hafal semua mantan pacar Laut semasa kuliah. Begitu pun Laut yang masih ingat dengan mantan-mantan pacarku. Bagaimana tidak? Perempuan-perempuan itulah yang biasa datang hampir tiap malam dan keluar masuk pintu kamar-kamar kost kami. Dengan merekalah kami biasa bercinta berisik sekali di hari-hari biasa, lebih berisik lagi saat sedang kangen, bahkan super berisik kalau sedang kambuh dramanya.
***
Jingga. Itu nama pacar Laut yang sekarang. Pasangan yang namanya cukup serasi karena sama-sama indie, namun sebenarnya punya beda sejauh bumi dan surga. Jingga sedikit terlalu manis buat Laut yang tidak bisa disebut tampan. Mereka punya selera musik beda, bacaan beda, bahkan tontonan juga beda. Selisih umur mereka di atas sepuluh tahun. Tapi toh mereka baik-baik saja. Setidaknya menurutku. Laut dapat mengimbangi Jingga yang kadang kekanak-kanakan. Sementara Jingga dapat menerima Laut yang sering terlihat pura-pura cool padahal rapuh itu. Keduanya sama romantis dengan caranya. Sama-sama sepakat cuma psikopat yang doyan seblak, dan sama-sama apatis dengan konsep bukit algoritma apalagi metaverse.
Masalah Laut dan Jingga cuma satu: mereka beda agama. Laut sudah Islam sejak lahir, sementara Jingga menganut Katolik.
***
“Gimana ya?’ tanya Laut sambil mematikan rokoknya di asbak. Pada sore gerimis, di sebuah kedai kopi yang hobi memutar lagu-lagu Fourtwnty. Di tempat macam inilah biasanya obrolan yang mestinya rahasia jadi tak rahasia. Semua orang bicara dengan suara keras. Duduk di tempat ini setengah jam dan pasang kuping baik-baik, niscaya kita bisa tahu password email mas-mas brewokan di kursi pojok, nilai proyek om-om botak di kursi sebelahnya, nama kucing mbak-mbak vintage di kursi sebelahnya lagi, bahkan tentang perempuan di kursi depan dan perempuan di sofa dekat jendela sedang berebut fuckboy yang mana.
“Jingga?” aku bertanya balik. “Minta putus karena ngerasa hubungan nggak ke mana-mana?”
Laut tak langsung menjawab, tapi menyalakan sebatang lagi rokoknya.
“Gue pikir lo udah siap,” lanjutku.
“Nggak,” Laut menggeleng. “Gua sayang Jingga. Memang sayang banget. Gua udah ngerasa sangat cukup. Sama dia gua ngerasa nggak perlu ke mana-mana lagi. Dia pemberhentian terakhir gua. Rumah terakhir gua. Cita-cita gua. Daftar paling atas di rencana-rencana gua. Yang nggak pernah gua pikir bisa sesayang ini dan sejauh ini, tapi akhirnya bisa.”
“Normshit,” ketusku.
“Apaan?”
“Normatip bullshit.”
“Serius,” sergahnya. “Gua tau ini klise. Dulu gua pikir ya udahlah. Dijalanin. Beda agama bodo amat. Kejauhan kalau baru pacaran langsung mikir nikah. Tapi ya.. memang ini waktunya. Gua mulai yakin mau nikahin dia.”
“Baru setaun, kan?”
“Terus?”
“Baru setaun lo udah pengen nikahin?”
“Mestinya berapa lama?”
Aku tertawa. Keras sekali. Tapi miris. Sadar kalau kalimatku kurang pas.
“Gue pikir lo nggak seserius ini.”
“Ntar juga lo ngalamin.”
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Bingung mesti berkata apa lagi. Saat ini aku sudah tak terpikir buat menikah. Banyak alasan dan pertimbangan. Tapi Laut mungkin benar. Aku cuma belum mengalaminya. Belum menemukan momennya.
“Gua mau coba,” lanjutnya.
“Apaan?”
“Tadi siang gua curhat hampir dua jam. Gua mau ganti agama di KTP buat ngurus nikah.”
“Bukannya tetap bisa? Nikah dan nggak usah pindah agama?”
“Ribet di birokrasi. Ganti agama di KTP itu jauh lebih simpel. Nggak perlu dua kali nikah pakai cara agama.”
“Bener bisa?”
“Bisa,” jawabnya yakin. “Gua udah dikasih tau caranya.”
“Siapa yang ngasih tau?”
“Temen curhat gua.”
“Lo curhat sama siapa?”
“Hasan Ular. Satpam kantor.”
***
Jadi begitulah. Laut percaya begitu saja dengan Hasan Ular, satpam kantornya yang konon mantan preman sekaligus mantan ketua ormas itu. Pura-pura hilang KTP dan mengurus surat kehilangan ke kantor polisi sudah Laut lakukan dengan sukses. Tinggal meminta KTP baru, lalu mengganti agama di kantor kelurahan. Syarat terakhir itu yang akhirnya membawa kami ke sini. Sore di halaman sebuah kantor kelurahan yang sepi. Persis di samping komplek kuburan, ditingkahi suara lolong anjing bersahut-sahutan.
Seorang bapak berkumis tipis berseragam coklat PNS menyambut kami di ruang depan. Satu-satunya orang yang kami lihat di sini. Di balik meja kayu bertaplak hijau lumut, lengkap dengan satu kursi kayu dan dua kursi plastik kondangan.
“Ada yang bisa saya bantu, Dik?” tanya bapak itu.
Aku melirik nametag di atas saku kanannya. Tertulis di situ namanya dengan huruf kapital semua: NYOTO.
“Pak Nyoto..”
“Nyoto, Dik,” ralatnya sambil tersenyum lebar. “O-nya seperti di Sukarno atau Suharto.”
Di bawah meja, kaki Laut menendang kakiku pelan.
“Maaf. Pak Nyoto. Kami mau ketemu Pak Kasatpel,” jelasku sopan.
“Pak Lurah masih ngurus diklat. Setengah jam lagi baru balik. Biasanya habis azan Maghrib.”
“Pak Kasatpel,” ucapku kalem. “Kasatpel Dukcapil sini. Kami mau urus ubah data di KTP.”
“Iya. Namanya Lurah, Dik.”
“Maksudnya?” kali ini Laut yang bertanya.
“Pak Kasatpel Dukcapil di sini itu namanya Lurah. Lengkapnya Lurah Susetyo.”
“Kenapa bukan Kasatpel Susetyo?” kejar Laut.
Di bawah meja, gantian aku yang menendang kaki Laut pelan. Ia akhirnya tak melanjutkan kalimatnya.
“Oh. Jadi Kasatpel sini itu Pak Lurah,” ucapku.
“Bukan,” geleng Pak Nyoto. “Pak Lurah itu Kasatpel.”
Aku sadar obrolan ini bakal sama tak berujungnya dengan perdebatan “Duluan mana ayam atau telur?”, atau “Lebih penting mana sayang atau cinta?”, maka dengan mimik yang kujaga tetap serius, aku melanjutkan bicaraku ke Pak Nyoto.
“Teman saya ini mau ubah data di KTP-nya, Pak,” jelasku. “Untuk urusan ini, saya bisa ke Pak Kasatpel kan?”
“Adik titip saja dulu berkasnya di sini. Saya bisa urus. Nanti tinggal Pak Lurah yang bantu proses. Data apa yang mau adik ganti?”
“Agama, Pak.” Jawab Laut cepat. Seakan tak mau memberi kesempatan buat ditanya lebih lanjut. “Kenapa agamanya ganti, karena saya memang sudah lama pindah agama tapi baru sekarang sempat mengurus ke sini,” lanjutnya.
“Kenapa tidak segera diurus?”
“Saya sibuk sekali.”
“Kenapa pindah agama?”
Laut tidak menjawab, tapi langsung menyodorkan dokumen-dokumen yang sudah disiapkannya.
“Ini berkasnya sudah lengkap. Termasuk surat hilang dari kantor polisi,” ujarnya. “Semua sudah difotokopi rangkap tiga. Ada syarat lain lagi, Pak?”
“Hehehe…”
Laut sepertinya langsung sadar dengan maksud “Hehehe” itu. Maka tanpa basa-basi lagi, ia menyorongkan tiga lembar pecahan limapuluhribuan ke tangan Pak Nyoto.
“Tunggu ya, Dik,” ujar Pak Nyoto setelah menerima pemberian Laut. Dia menulis sesuatu di secarik kertas. Sekilas terlihat seperti kertas kuitansi yang dirobek asal-asalan. Ada beberapa baris kalimat di situ. Tapi tak sempat tertangkap mataku karena dia keburu melipatnya dan langsung menyerahkannya ke Laut.
“Simpan dulu,” kata Pak Nyoto. Matanya menatap Laut tajam. “Sekarang kalian tunggu di luar. Sebentar lagi Pak Lurah datang. Beliau biasa pulang pas azan maghrib dan salat sebentar di sini, setelah itu baru pulang ke rumahnya. Kasihan. Rumahnya jauh.”
“Pak Lurah bukan orang sini?” tanyaku.
Pak Nyoto tidak menjawab. Cuma tersenyum. Senyum yang kali ini ganjil dan membuatku merinding.
“Adik tunggu di luar ya,” ulangnya. “Nanti pasti dibantu. Kalian sambil ngerokok saja di teras. Nggak apa-apa,”
Baik aku dan Laut sama-sama mengangguk, lalu meninggalkan meja itu.
***
Di teras kantor kelurahan, Laut kembali menyalakan rokoknya. Langit oranye di atas kepala kami perlahan menggelap. Suara lolong anjing masih bersahut-sahutan, lalu sayup-sayup azan maghrib terdengar di telinga.
“Gua baru pertama kali ke sini,” ucap Laut dengan tatapan menerawang. “Sebenernya males ngurus ini. Tapi harus. Sekalian belajar bertetangga. Belajar sabar sama birokrasi. Sekalian kenalan sama orang sini.”
Aku tak berkomentar. Laut melanjutkan bicaranya.
“Gua beli rumah di daerah sini cuma buat invest. Jarang banget gua tempatin. Paling seminggu sekali. Lo tau lah gua lebih sering di apartemennya Jingga.”
“Kenapa nggak cari rumah di Jakarta?”
“Ya kali.” Laut terkekeh. “Nggak bakal mampu gua sama harganya.”


