Natalan yang Semu
15 Desember 2021, saya melihat teman SMA melakukan postingan di WA stories seperti ini “JOGJA DARURAT HI-ACE till 22 des”. Saya membatin “wah benar-benar wisata hidup lagi” — karena teman saya ini bahkan tidak pernah menulis status hal-hal wisata. Biasanya terkait parenting saja. Tapi saya sadar–dan kelu, bahwa status WA tadi tidak cukup menyenangkan. Atau semacam “duh datangnya terlambat”.
Jika melihat data secara global, setidaknya hanya 3 negara dunia yang (anehnya) mengalami anomali rendahnya kasus baru covid dan kasus kematian covid. Israel (populasi 6 jutaan) dengan hanya 30an kasus baru/hari, Jepang (130 juta jiwa) dengan kasus baru hanya 190-210an, dan Indonesia (274 juta jiwa) kasus baru mirip Jepang, hanya 180-220an saja. Saya berusaha memaklumi bahwa anomali ini — bahkan meski sudah jelas OMICRON masuk ke Indonesia, tetap dipakai banyak orang untuk berwisata, seperti halnya di Yogya. Sebagai tambahan, wafat covid di Indonesia per 19 desember cuma 4 jiwa, dan per 20 desember hanya tambah 11 jiwa wafat. Serendah itu. Entah keberuntungan apa, dan semoga tetap protokol kesehatan.
Untuk membayangkan betapa timpangnya kasus covid di 3 negara ini dibanding global yang mengganas, saya mencontohkan satu saja dan bukan negara. New York. Per 19 Desember 2021, negara bagian NY mencapai 70,9% warga divaksin 3 kali, 82 persen warga divaksin 2 kali, dan 94 persen warga divaksin 1 kali. Tapi kasus covid baru, per 19 Desember, negara bagian NY mencapai 22,478 kasus, dimana khusus NYC nya saja mencapai 12,404 kasus. Bahkan Jakarta saat sangat kritis covid, tidak mencapai 12k kasus covid. Skala populasi Jakarta hampir mirip dengan NYC, sementara Jabodetabek jelas lebih besar dibanding negara bagian NY.
Balik lagi “status WA tadi tidak cukup menyenangkan, atau semacam “duh datangnya terlambat”. Saya teringat senior saya. Dia punya usaha wisata gitulah, dibangun dari nol. Semacam punya akses losmen-hotel (bahkan bangunannya losmen itu sendiri {???}), dan punya armada HI-ACE. Tapi (menurut balasan pesan yang saya terima) dirinya melepas semua unit/aset wisatanya dan kini di bisnis pertanian.
Kebetulan banget senior saya ini merayakan Natal.
Saya kurang yakin bagaimana kira-kira jika Covid lebih cepat mereda, katakanlah demikian. Apakah senior saya ini cukup senang, dan sebetulnya masih bisa menjalankan bisnis wisata. Mendapati “HI-Ace” miliknya, semuanya, disewa, katakanlah demikian, sehingga berputar kembali keuangan sehidup-hidupnya. Tapi kan—waktu gabisa diputar lagi.
For a business, “memanjangkan nyawa”, saya sudah jual 1 cincin. 1 cincin lain (hampir) – masih mikir dikasih sepupu atau tetep dijual. Satu cincin lain/cincin ketiga, belum tau mau saya apakan. Saya pernah mendapat curcol teman saya, HI kampus lain, minimal amsyong 357 juta rupiah demi menghidupi bisnis umrah. Suatu lain, seorang teman beda fakultas tapi masih UGM, melego rumahnya di Imogiri agar bisnisnya tetep jalan. Teman yang lain, tidak berbisnis sih, sudah usia bapak-bapak, lulusan S3, dia sadar sepenuhnya bahwa tidak akan menerima THR Natal (kalau rentang kerja 18 tahun—mungkin mendapat 60 juta), dan berusaha bergembira gaji awalnya 40 juta/bulan cuma jadi 12 juta. Kalau kata Ariel Noah (via “Yang Terdalam”).... “..kulepas semua yang kuinginkan/i took everything I wanted”. Melepas banyak banget harta, siapapun, untuk tetap hidup ditengah covid.
Saya yakin banyak banget yang “duit dan asetnya” melayang. Saya membatin, senior saya tadi (yang dulu, punya bisnis wisata) merasa natal kali ini semu. Ilusi kebahagiaan karena toh dalam kondisi (terlalu) memprihatinkan.
Tapi dalam titik yang (menyedihkan banget-banget) nadir dalam Natal, saya kebetulan banget (ditampar) dengan keadaan rill teman baru saya. Dirinya tentu merayakan Natal. Dirinya Yatim Piatu sejak kecil. Tidak pernah sampai ke panti Asuhan, tapi hidup menumpang ke keluarga yang lain. Menyebut “pindah-pindah” keluarga.
Saya bukannya tidak pernah menjumpai “garis bawah”. Saya terlampau sering melihat orang-orang di “per-ko” (emperan toko), tiap kali dulu sekali rutin muter Yogya malam-malam jika tidak bisa tidur. Orang yang lebih sulit dari saya, saya terbiasa melihat. Tapi benar-benar mengetahui pedih — dengan jujur dan riang, kadang umpatan, saya setidaknya kembali mendengar, dari teman baru saya ini. Awalnya murni karena “momen di bioskop”.
Teman saya ini kebetulan penggila film. Jadi dirinya bukan saja mengkoleksi jauh lebih banyak potongan karcis bioskop jauh lebih banyak dari saya. Tapi juga jelas lebih banyak mengoleksi OTT (over the top) – layanan streaming film atau serial, lebih banyak dibanding saya. Dengan segala kerja keras–yang mungkin rada brutal.
Saya hampir nangis pada titik obrolan dengan dia —- justru disaat dia bilang “aku ga terlalu memahami fanatisme pada Sheila on7, Prada, karena ga punya radio”
Dia tidak bercanda saat bilang dia tidak punya radio. Entah radio kotak tipis hitam ( ada antena), atau “boombox” radio bentuk gembrot. Atau bahkan HP murah dengan fitur radio — 18 tahun lalu, dia ga punya. Saya mengenang (gegara teman saya bilang ga punya radio) masih bersyukur banget dulu saat SMA sudah ada HP–bahkan sempat ganti-ganti. Saya mungkin pernah iri orang-orang punya flashdisk, saat saya pernah hanya pakai OHP. Saya tentu bersyukur adik saya masuk Tarnus, sekolah klasik era Orba yang digambarkan (sejak Orba) termahal se-Indonesia (meski perlahan makin banyak SMA yang lebih mahal). Bahkan saat adik saya kuliah di Singapura, ya bersyukur banget–dengan keterbatasan keluarga kami.
Teman saya terdiam, sambil terisak, beberapa lama saat mengobrol (& mendefinisikan) film-film natal—karena kan memang mendekati natal. Saya menyebut judul film-film tema Natal, dan dia merasa ga sreg. Film-film tersebut(yang saya sebut), kalau dilihat di kolom komentar YouTube, banyak banget komen terharu sampai menangis. Dia (dengan terisak setelah terdiam) merasa film-film Natal tersebut ga membawa atau menjelaskan konteks Natal yang tepat.
Saya berusaha banget menyelami kegetiran dirinya. Puluhan tahun sejak terlalu kecil ga punya ayah ibu kandung. Saya jauh lebih beruntung–punya Ibu yang jago masak, berkebun, mengerti bagaimana menanamkan cara berhemat sembari tetap menolong orang lain. Teman saya ga punya privilege seperti itu. Saya gatau seberapa sepi —puluhan tahun—dirinya merayakan Natal. Mengingat tiap tahun (meski saya jelas ga merayakan Natal karena islam) bagi keluarga inti saya justru tanggal penting jatuh di tanggal berdekatan natal, saya bilang ga bisa menghibur teman saya saat hari-hari natalan, tapi saya berusaha banget — diluar jam kerja — untuk menghibur dirinya tuk tahun Baru dan hari-hari setelahnya.
Privilese. Kata ini menjadi trauma yang lebih menggaung bagi teman saya ini, lebih-lebih dibanding bagi saya, padahal juga mengganggu. Saya gatau seberapa banyak sebetulnya pemeluk katolik dan kristen tahun ini yang sangat mengenaskan — sangat prihatin merayakan hening Natal di indonesia. Saya tahu betul mall ramai. Teman saya hanya akan ke mall cuma karena / terkait film bioskop. Tapi kepahitan hidup ga punya ayah-ibu terlalu kecil ga membuat dirinya kehilangan rasa peduli. Dia mengucap “ga ada perubahan & lebih banyak bantuan kalau ga benar-benar kita lihat sendiri proses nolongnya, Prada, karena pertolongan yang terasa kalau benar-benar turun ke gang-gang”.
—-------------------
Menolong. Saya gatau bagaimana menolong lebih banyak ditengah makin semu Natalan. Saya ga bilang keadaan di Indonesia memburuk — jelas di banyak negara lainnya (secara statistik) covid mengganas, dan seolah Natal kali ini seperti tahun lalu: belum benar-benar vaksin didistribusikan meski sudah ada, kematian harian amat besar. Saya kehilangan banget-banget suasana liburan sejak lama. Dan saya melihat langsung/tahu langsung beberapa teman-teman nasrani sebetulnya hidup “terlalu prihatin”.
Tentu secara populasi, akan jauh lebih banyak muslim yang hidup lebih prihatin. Tapi entah kenapa, sebagian/dominan teman-teman atau kenalan yang memeluk kristen dan katolik, berteman jauh lebih tulus. Saya jauh lebih pingin membahagiakan mereka ditengah segala kesulitan ekonomi dan kesulitan macem-macem. Tapi saya termasuk bagian WNI yang ga punya privilese apapun. Dan terus belajar dari yang lebih getir hidupnya–tapi sanggup mencari kebahagiaan.


