Ode pilu kematian
Sedih banget bahwa seorang yang sudah saya anggap teman dekat, literal berulang email saya minta tolong hal2 profesional, kehilangan ayahnya. Yang lebih menyesak bukan (semata) saya ga bisa menghadiri perkabungan karena Ibu saya sedang butuh saya banget-banget-banget.
(Yang lebih menyesak) bahwa cerita-cerita larut malam yang membuat saya pelan-pelan mencoba benar2 menyebut nama orang literal dan bisa membuat saya lama banget berdoa karena *BANYAK NAMA*. Guru SD dan dua teman amat dekat saat lahir (di Semarang) sampai berseloroh-sambil bercanda bahwa saya salat wajib itu lamanya kayak Jumatan.
Teman saya ini meluangkan waktu yang rumit, tengah malam pun, demi aku. Jadi saat wafatnya ayahnya kemarin, saya benar-benar sedih.
Cerita tengah malam yang sulit membuat saya lupa bukan semata “ngegepin perzinahan moaning ngewe apala apala itu”. Tapi bagaimana seseorang merespon call saya. Tepatnya by texting.
Saya ingat betul jam 1.30 malam. Gontai melangkah setelah dari hotel bintang 5 di bundaran HI (*ps: ada 4 hotel saling hadap2an dan semuanya bintang 5). My Ex just a whore, pelacur, kegep moaning di suatu ruangan, swinger, threesome, everything “wild” on the bed. Saya ga yakin Menteri dan Kyai tersebut bakal diungkap ke publik—bahkan sampai 7 dekade kedepan.
Back to “gontai melangkah”.
Saya bisa jalan kaki ngalor ngidul sampai ke KFC Tugu Tani, dan pas subuh sudah tiba (dengan jalan kaki pula) ke Stasiun manggarai.
Saya memilih texting dengan seorang dosen muda — yang ayahnya pekan lalu wafat ini.
Pokoknya dia menerima textingan saya dan merespon sampai setidaknya sejam. Saya ga tau sejauh apa sebetulnya dirinya terjaga: apakah dia lagi tektokan lintas benua dengan suaminya yang expatriat dan punya PT sendiri di Indonesia? Atau anaknya lagi demam sehingga masih terjaga. Atau lagi dikejar-kejar paper (entah kampusnya, atau lembaga think thank), mungkin mengalami “writer's block” lalu koq ada Prada, dan mencoba disapa direspon sampai setidaknya sejam.
Yang paling sedih dari obrolan itu adalah mimpi dirinya tentang “San Diego Hills”. Kira2 begini kalimatnya “ku kerja macem2 agar harapannya tetep kebeli obatlah tuk papaku, sembari kalau worst, aku dan suamiku bisa mengebumikan sampai ke San Diego Hills”.
Makam (khusus) keluarga kubu Jawa / sisi Jawa saya dalam area yang setidaknya satu TPU, tapi sangat2 sempit ditengah “hingar bingar Solo”, tidak pernah merasa harus dimakamkan di Imogiri (karena punya sedikit darah kraton) atau TMP antara Solo dan Yogya (salah satu eyang adalah Veteran). Bahkan saya pernah mengira TPU tersebut dijual dan dibangun mall super besar (ternyata jadinya mall tersebut diagonal seberangan dengan TPU, nyaris persis 500 meter dari TPU dimana ayah saya dan eyang-eyangnya dimakamkan).
Yang rumit adalah keluarga (sisi) Minang. Udahlah terpencar-pencar. Pernah ada yang hanya di bawah bambu (karena wafat prematur). Ada juga yang dimakamkan ditengah-tengah sawah, semacam wasiat kalau si (yang dimakamkan) ingin dikelilingi hasil jerih payahnya 8-9 dekade. Keluarga besar (dari sisi Kraton maupun Minang) saya tidak pernah bermimpi dimakamkan di San Diego Hills atau Al Azhar memorial. Konon saat covid amat ganas Juli-Agustus 2021 (+1000/hari wafat nasional; rentang 600 wafat DKI+Jawa Barat per hari), harga San Diego Hills maupun Al Azhar naik 10 kali lipat, belum lagi biaya protokol pemakaman.
Tapi ternyata ayahnya teman saya ini dimakamkan secara amat biasa.
Saya tahu betul (sejak obrolan texting) bahwa ayah teman saya ini orang amat terpandang. Saya baru menyadari lebih jauh (karena postingan teman saya ini—setelah ayahnya wafat), ternyata ada “kraton-nya” juga. Saya gatau dan ga mau mencari tahu apakah memang (almarhum) tidak ingin menyulitkan teman saya ini dan minta dimakamkan biasa saja, atau terkendala biaya San Diego yang supermahal.
Saya terbiasa menyebut nama secara detil pula untuk orang2 jahat agar mati membusuk. Lebih2 hewan yang belasan tahun mencoba merugikan saya imateril dan materil. Will Smith menyebutnya “defending family” di Oscars.
Hewan-hewan yang melebar ternyata melakukan doxxing sampai ke adik dan ibu saya. Tapi saya juga mendoakan hal2 yang amat baik–seringkali nelangsa, kalau teman2 baik saya ibu atau bapaknya sakit.
Saya pernah berseloroh bertanya karena khawatir “apakah aku harus berdoa lebih intens ya seharusnya mam, sehingga si ayahnya itu ga mati? Kayaknya dua hari belakangan aku terlalu buru-buru menyelesaikan doa, lalu baru dapat kabar ayahnya wafat”.
Ditengah kerentanan ibu saya, yang seperti saya, punya comorbid (artinya adik saya juga) yang sangat berisiko kalau terlanjur kena covid bahkan meski divaksin, saya kepikiran teman-teman saya yang masih sakit ayah-ibunya. Yang paling sedih mungkin, menurut saya terkait teman saya ini, dia ga sanggup mengajak ayahnya berpuasa lagi tahun ini. Bagi Muslim, selalu ada idiom “semoga kita diberikan umur agar tetap berjumpa pada puasa ramadan”. Tidak sampai 10 hari puasa (per Jumat kemarin), dan wafat. Pasti pilu betul yang dirasa teman saya——bahkan sekalipun dirinya amat-amat liberal.
Misalnya saya tidak pernah kunjung untuk tidak kepikiran ibu dari seorang Account Executive eks sekantor — yang tiba-tiba dia berjilbab sejak 6 bulan lalu, entah karena ibunya jatuh sakit atau panggilan hati kepadanya. Atau anak kecil yang down syndrome. Atau nama spesifik lain yang sakit yang berseliweran di IG, FB, Twitter saya. Atau seorang teman yang lain yang sejak lama mnegidap tiroid.
Dan itulah mengapa bahwa meski saya bertiga (ibu-adik yang profesinya jauh lebih rentan ken covid karena langsung hal-hal dari luar negeri-saya sendiri) saja, kepikiran terus dengan (kesehatan) yang juga hanya bertiga—-orang non sedarah, diluar ibu dan adik saya, masih hidup, yang amat saya cintai: anak tunggal bernama Ndari dan dua ortunya.
(ya mudah2an lebih banyak orang diberi umur menikmati ramadan dalam jumlah tahun yang lebih banyak….amin…. Tapi Ndari bukan kelahiran 1976 kan ya #gakgituprada —— ku berharap keajaiban berpuasa sama kamu Ndari)
Saya personally, diluar2 hewan2 yang kuingin mati segera atau keluarganya mati segera (*entahlah, kata “guru karma” gue, ga usah dipikirin Prada), kuharap semua orang ga bernasib sial berumur cuma 39 seperti ayah saya. Dan khusus yang Islam, lebih banyak tahun yang dienyam untuk menikmati Ramadan. 39 tahun itu pendek banget, apalagi 27 kayak Mas Cobain.




