teguran-----tapi semoga bukan karma
Dalam waktu (yang sudah lewat), saya murka betul, bawahan saya (& de facto penghuni belasan tahun suatu pemukiman) diperlakukan tak menyenangkan, didiskriminasi. Malam ini (by VC) pun saya melihat raut wajah bawahan saya terasa memendam traumatis. Tapi bisa jadi (sebetulnya bercampur) laga sepakbola yang — hopeless. “dia cuma orang kecil…” batin saya.
Islam ga menekankan adanya karma. tapi saya percaya betul akan karma —- (maka saya) meminimalkan betul berbuat jelek/merugikan orang lain. sedapat mungkin menolong, tidak pernah berkata “tidak” untuk menolong (*ps: menurut teman terdekat saya, itulah kelemahan terbesar Prada: tidak sanggup tuk berkata tidak).
Tapi Tuhan berkata lain. Seorang ulama berkata “logika manusia ga pernah bisa nyampai untuk memahami keputusan Allah”.
derap tengah malam sunyi 2 hari berturut — sembari tahajud, saya menyadari Tuhan “menampar”, “menegur”, bisa jadi (Tuhan) marah ke saya.
saya bahkan gatau masa depan apa yang disiapkan Allah. untuk pertanyaan terbesar, rumit, terkompleks belasan tahun atas hubungan saya dengan Allah: siapakah sebetulnya Mrs Prada? Meski saya gatau Allah maunya apa. pemilik nama “pradana” di samudera pasifik, me-chat saya: kamu orang besar, Prada, aku yakin kamu disiapkan hal baik. “obrolan hangat sesama ketua kelas yang punya nama belakang sama”.
apa iya ya seorang kristen mendoakan hal yang baik itu ke saya. (lagi-lagi) syahdan, seorang kristen tau betul saya kecewa, sedih, patah hati karena buntu banget dengan seorang yang beda agama dengan saya. dia tahu saya berusaha “membangun opsi yang baru—-terasa tidak mendadak karena (toh) bukan orang yang dadakan saya kenal”. Islam pun. Jawa pun. “..namaku kan jawa banget sebetulnya, nama tengah, bro”.
saya percaya Allah, Tuhan, itu ga beda-bedakan agama siapapun saat mendengar doa. saya masih merasa khawatir (mungkin lebih tepat: cemas) “jangan-jangan temenku yang kristen ini, mengucap untuk aku, terkait nama satu orang, dan bener2 dikabulkan Tuhan sejak lamaaaaa banget”. secara personal, saya memang ga pernah berusaha me-monopoli bahwa tidak memeluk Islam—makanya tidak lebih didengar Allah, siapa tau justru mereka lebih didengar sama Allah”. saya mendapati terlalu sering “keluhan” atau “sambat” atau “doa—sembari marah” yang tidak memeluk Islam, menghasilkan hal-hal signifikan yang (setidaknya) saya tahu betul kejadiannya.
Maret-April 2020 kami berdua chat lama sekali terkait “perempuan yang sama”, yang saya berusaha cintai bertahun lampau. “kalau kamu yakin, kamu harus berusaha ngejar benar-benar”.
Tapi saya ga tahu Allah maunya apa. bukan semata kelakuan teman-temannya yang culas, koruptif, pedofil, jahat, menjijikkan. Murni “apakah ketimpangan antara saya dan dia bisa benar-benar dijembatani”. meski sebetulnya —- minimal sama-sama (1) Jawa dan (2) Islam pun.



