(Deal with) Ultra Conservative
Saya ga yakin dengan menganonimkan yang saya maksud ini, terjamin nama dimaksud ga bakal ketahuan. atau bahkan (disengaja) dibagikan ke nama dimaksud, entah siapapun yang membaca. Musuh dan “cepu” serta tim doxxing atas saya banyak banget. Tapi karena masih buntu tulisan subastack lain (*tentang gempar politik yang terjadi di negara —---- dimana si nama ini pernah bersekolah lagi*), saya coba bahas yang ringan-ringan.
Orangnya amat baik selama saya di kampus HI. Nama dimaksud juga berulang intens dalam doa saya —dan kini saya juga doakan dengan pasangannya. Saya suka mendoa dengan nama-nama langsung-lengkap dalam salat (termasuk profil yang saya bahas ini), dan suatu kapan tau, guru SD saya kagum-tertegun-ga nyangka ”dek adi yang suka nangis pas di SD, salatnya lama banget ternyata”, saat suatu waktu bertemu di Mall.
Saat (kemungkinan berjeda) 2 hari kayaknya, dia memposting pernikahannya di suatu hotel bintang lima. Saya tertegun bahwa —- seperti di hari yang diperkirakan hari nikahannya, saya di hotel yang sama tapi keperluan nego kerjasama. Saya ga ngeh dong karena hotel kan super luas, dan saya ga liat kemana-mana saat itu selain fokus bertemu nego sama GM dan jajarannya di hotel.
Saya cukup bingung bagaimana (menjelaskan) bandul, atau skala “devoted” saya. Saya sanggup intens (terlalu intens mungkin — karena Gelandang) main futsal nyaris utuh 2 jam, dan rutin, atau latihan paskib/tonti dengan push-up 300-400 dan masih puasa tidak wajib (orang Islam menyebut: Sunnah). Tapi saya amat aktif pula membela hak-hak non muslim, dan, suatu ketika beramai2 teman saya sefakultas (bukan sejurusan HI) mengira saya pindah agama — suatu kapan keributan di fesbuk. Suatu waktu saya pernah dibacok oleh FPI cuma karena, momennya saat itu, keributan dikepung suatu keluarga non muslim oleh FPI.
Tapi saya meyakini “nama dimaksud” ini cukup liberal, bisa jadi lebih liberal dibanding saya sejak kuliah dan saat ini. Rekam jejak kerjaannya jelas amat liberal sih.
Tapi pasangannya saat ini setelah menikah—saya cukup tertegun: amat konservatif kayaknya. Ultra, mungkin. Saya bisa banget memastikan gegara (intens) apa yang diposting di IG. Saya terus-menerus kepikiran bagaimana (sebetulnya) mereka bisa bertemu, bagaimana (perlahan) mereka cocok: (mungkin) ultra konservatif dengan (saya yakin betul) amat-amat liberal. Tapi itulah mungkin ya, namanya rahasia Tuhan, rahasia Allah.
Saya menemukan banyak juga hal demikian: kontradiksi suami istri, atau artinya kalau sudah punya anak, papah muda mamah muda, yang seradikal ini perbedaannya. Dan saya berusaha betul, bahkan sejak bertahun-tahun lampau, mencoba bukan semata mengantisipasinya (karena terlalu abu-abunya bandul keimanan saya), tapi mencoba melarutkan perbedaan: saya dulu mencintai anak HI yang udahlah amat kristiani taat, Chinese Overseas pun. Ya … gagal.
Setiap kali melihat banyak banget pasangan (lain), dan bahkan cerita perceraian yang terlalu cepat pun, saya terus-menerus belajar, tanpa merasa marah dengan keadaan apapun. Justru termasuk kasus “nama dimaksud ini”, saya terus menerka: serahasia apa Allah mencipta Mrs Adi, Mrs Prada. seradikal apakah kemungkinan perbedaannya,, karena ga pernah ada yang mustahil bagi Allah.
Saya terus-menerus, sejak momen di Melia Purosani, momen dia menunggu di gang, lalu kami baru jalan keliling Yogya, mendebat dalam benak hampir sedekade “betapa terlalu dalam perbedaannya”. Bahkan setelah kado itu diantar, dan rentetan kejadian sampai malam ini pun, malam saya berada di gazebo amat terbuka mengetik, yang “bulannya sudah bukan sabit lagi sih, nyaris 45% ukuran”. Berdebat bertahun-tahun, dan terus-menerus berkata “saya ikhlas banget-banget kalau dia bukan Mrs Prada, tanpa tapi apapun”.
Perbedaan saya dan dia tidak bisa dikompromikan, sejauh ini, yang bisa saya terima banget-banget, dan menjadi pasangan orang lain. Entah kapanpun akhirnya apakah (di ujung, entah berapa tahun lagi) saya salah atau jadi (orang satu-satunya, ditengah ribuan pemaki) benar sendirian. When people know they’ve wronged you, they avoid you, cant honest for admit wronged about you.
Bisa jadi tidak seperti “nama dimaksud” dengan pasangannya saat ini yang (secara ajaib) cocok dan langgeng, ketidakcocokan dan perbedaan saya dengan dia tidak mungkin disatukan atau beriring. Maka mau menunggu hampir sedekade pun, saya seperti “memakai AC di puncak kaliurang” (istilah junior saya di SMA): hal yang amat percuma. Tapi saya meyakini semua hal tidak ada yang percuma dilakukan. “jabbariyah” banget-banget nya Prada, meyakini suatu hilang, suatu harus berjalan bahkan meski berujung kecewa, itu sudah memang “dari sononya”, benar-benar ke- Jabbariyah - an Prada yang ekstrim, meski disisi sebaliknya, saya sangat “pengukur dan planning jauh-jauh hari”, dan bahkan berusaha mencegah marabahaya.
Maka bahkan saat dia, ultra liberal 07, ga cocok dengan (bandul) saya yang sebetulnya cukup liberal, saya membayangkan se-amazed apa, siapapun Mrs Adi/Mrs Prada akan berbandul sikap hidupnya, dan bagaimana itu terintegrasi dengan saya. Teman baik saya di SD terus-menerus membesarkan hati bahwa “kamu ga perlu merasa terlambat, Di”. Dan saya terus-menerus melihat banyak sekali hal-hal lain: perceraian pernikahan yang cepet banget, atau sikap nyaris sedekade (pernikahan orang lain) bahagia-bahagia aja tidak punya anak.
Untuk “nama dimaksud” dan pasangannya, saya maaf banget ga nyadar kalau (saya) di hotel yang sama dan ga nyimak rombongan acara pernikahan yang khidmat di hotel yang sama hari tersebut. Doaku lamat-lamat dan rutin untuk kalian berdua. Kujamin seumur hidup tetap di close friend IG, karena saking baiknya di kampus dulu.
—------
Tapi, bahkan ditengah keikhlasan seluas langit merelakan orang lain “memenangi” hati perempuan, saya tidak pernah memungkiri “betapa saya mencintai perempuan yang nunggu saya di gang Tukangan”. Dan jalan-jalan ditengah terik Yogya, lebih gila panas hari itu (diperparah makan super pedas pun), dibanding seindonesia hari ini yang “neraka seolah bocor”.
Cranfield memang jelas jauh lebih bagus dibanding Leeds yang saya lepas, sih. HI banget lah Cranfield, kayak Yale yang “anak Hukum banget”. Dan saya tetep aja buntu nulis substack yang saya sudah pikir sejak 10 jam lalu.
Balik lagi, menutup tulisan ini, suatu radio secara nakal memutar “Tulus-Adaptasi”. saya berusaha paham 15 tahun terhadap dia, meski kami ga cukup pandai berkomunikasi satu sama lain “terlalu sedikit waktu berbicara”, kata lagu ini.
“...hari depan tak ada yang tahu, (tapi kapanpun nama laki-laki lain resmi tersemat sebagai panggilan nama kamu), aku ingin kamu tahu kalau … aku sayang kamu…”
15 tahun tidak pernah diberi kesempatan beradaptasi lebih luas tentang kamu.



