Hijab
...untuk kamu di "Kedutaan China", dan untuk siapapun yang tetap memakai Jilbab.
Seorang perempuan yang, mematut bangunan kuliahnya sebagai “Kedutaan China”, sepertinya cukup ketakutan/galau untuk berhijab seutuhnya atau (sekalian) tidak (pernah) berhijab seutuhnya. Dirinya jelas bukan China/Chinese Overseas/kita mengenalnya dengan sebutan Tionghoa. Tapi secara paras, dirinya akan sulit disebut “bukan China”.
Kebingungan, krisis identitas, atau keresahan inilah yang mungkin juga menjadi gambaran paradoks. Bahwa disatu sisi Muslimah Iran sangat ingin melepas jilbab, disisi (negara lain) Muslimah Perancis dan Denmark sangat ingin tetap memakai jilbab tapi dilarang negara setempat—karena regulasi (omong kosong) bernama sekularisme. Sementara juga, meski bukan “West”, India melakukan persekusi masif kepada Muslim (bukan semata Muslimah).
Seorang wanita, Muslimah, berhijab, baru saja dilantik sebagai salah satu anggota Parlemen Australia. Saya lupa etnis Arabnya darimana (*dana saya tidak mau googling). Seorang kepala Polres (*english: Precinct) di NYC adalah Palestina dan berjilbab/berhijab. Salah satu figur krusial di Partai Buruh Inggris, juga berjilbab. Ilhan Omar, kongres Amerika, Muslimah keturunan Somalia, berhijab.
Apa yang sebetulnya terjadi di Iran?
Iran adalah keturunan Persia, atau Farsi. Secara personal, saya menganggap otak Farsi hanya ada satu suku bangsa yang menandingi Farsi: Yahudi. Kaukasian ga ada-apanya dengan Yahudi dan Farsi. Garis keturunan Steve Jobs, kalau ditarik amat jauh leluhurnya, bercabang antara Assyirian - Farsi dan Arab Berber. Banyak sekali Farsi/Persia dan tidak memeluk Islam, amat-amat pintar, baik yang laki atau perempuan. Yang paling terkenal (paling awal) mungkin Andre Agassi (keturunan Iran-Armenian). Lalu Christiane Maria Heideh Amanpour, wartawan senior CNN, yang tiga hari lalu menolak memakai jilbab / menutup rambutnya sebagai syarat bertemu-interview Presiden Iran (Raisi).
Sedikit lebih panjang untuk menjelaskan: Amanpour tidak diminta berjilbab saat menginterview Ahmadinejad, dimana Ahmadinejad jelas jauh lebih radikal-konservatif dibanding Presiden Raisi (Presiden Iran saat ini). Presiden persis sebelum Raisi, yaitu Hassan Rouhani, juga lebih konservatif dibanding Raisi meski tidak sekonservatif Ahmadinejad, tapi dirinya tidak masalah Amanpour menginterview dirinya tanpa memakai jilbab. Tapi saat di Kabul, Amanpour bersedia memakai jilbab saat menginterview Haqqani (Agustus 2021).
Nama lain yaitu artis Nazanin Boniandi, yang amat terkenal dari dirinya adalah karena dia bermain di HOMELAND. Banyak sekali nama-nama ahli IT dan keturunan Iran, meski bukan lagi warganegara Iran. CEO Uber saat ini, Dara Khosrowshahi, keturunan Iran. Pendiri eBay, Pierre Omidyar, keturunan Iran (dan Perancis).
Saya sempat berpikir Iran adalah negara terburuk mengalami brain drain, negara yang paling parah mengalami kehilangan / defisit SDM karena kaburnya berbagai otak supercemerlang sejak Revolusi Islam 70an. Saya…salah.
Kuba sampai saat ini, meski miskin, adalah negara yang jumlah dokter per kapitanya paling tinggi di dunia. Ini karena semangat kemandirian yang dibangun Che Guevara (dokter), yang ingin secara jangka panjang agar Kuba mandiri dalam hal medis. Kuba berulang kali berniat menolong Amerika, utamanya Puerto Rico, karena tahun ini dan 2018 mengalami bencana topan luar biasa masif. Tapi ditolak Amerika. Sebegitu banyaknya dokter Kuba.
Hal sedikit kurang lebih sama terjadi saat Ahmadinejad memimpin Iran (2005-2013). Ahmadinejad teknik sipil. Dirinya semasif mungkin mendorong Muda-Mudi Iran untuk bukan semata ambil Fisika atau Teknik, tapi….Teknik Nuklir. Jika anda menyimak Olimpiade Fisika Internasional, setidaknya 2004-2014, Iran itu saingan superberat Indonesia, China, Korse. Amerika ga ada apa-apanya. Iran berulang bisa dapat 5 medali emas per tahun, sama seperti kontingen Indonesia.
Jadi, secara SDM, sekalipun kesannya Iran kehilangan superbanyak sejak Revolusi Islam, warga Iran yang “fine-fine aja” tinggal di Iran, sebetulnya sama pinter, sama jeniusnya. Dan mereka ga masalah hidup ga bergelimang harta. Di Iran, sangat umum mobil2 Fiat tahun 90an di jalanan.
Apa yang terjadi dalam 6 hari terakhir pasca wafatnya Mahsa (*wanita yang koma dipukuli polisi Iran karena memakai jilbab kurang rapat dan akhirnya wafat) menjadi kasuistik lain: polar kubu antara pro terjaganya konservatisme di Iran (yang juga amat masif, tapi tidak diliput media), dan yang anti rezim dan atau secara terang-terangan melepas jilbab sebagai protes (yang diliput media). Menurut Aljazeera sudah 41 warga Iran wafat, tapi sumir detil seberapa banyak 41 yang wafat itu laki dan yang perempuan.
Saya berpikir bahwa ujung dari segala protes ini akan membuat Iran mengambil contoh kompromi Turki: tetap amat konservatif tapi lebih toleran untuk tidak mempermasalahkan pemakaian jilbab. Turki memang “aneh” karena secara keagamaan jelas2 Erdogan sangat konservatif, istri Erdogan sendiri berhijab amat rapat, tapi warga Muslimah jauh lebih bebas untuk tidak memakai jilbab.
Apa yang terjadi di India dan negara-negara Barat adalah hal yang amat berbeda dibanding Iran. Saya tahu betul bahwa pakaian tertutup tidak mencegah pemerkosaan dan atau pelecehan seksual. Tapi pemakaian jilbab jauh lebih protektif dibanding tidak sama sekali. Itulah yang sebetulnya pada benak warga Muslimah di India, Perancis, Denmark misalnya. Bisa jadi mereka (Muslimah ini) malah pro situasi Iran, pro pada sikap melepas jilbab di Iran. Tapi bagi mereka sendiri, mereka tetap ingin berjilbab (di India, Denmark, Perancis).
Apakah ini sikap ambigu, cherrypicking, curang? ga juga, karena situasi politiknya jauh lebih kompleks dan tidak bisa diseragamkan. Saya bisa meyakinkan anda Ilhan Omar (Kongres AS) pasti pro Muslimah2 di Iran melepas jilbab sebagai protes pada rezim berkuasa Iran, tapi dirinya tetap bersikukuh memakai jilbab. Saya yakin banyak sekali wanita Muslimah akan melakukan/mengambil sikap seperti Ilhan. Saya yakin perempuan di “Kedutaan China” juga akan berprinsip seperti Ilhan: pro Muslimah2 di Iran melepas jilbab sebagai protes pada rezim berkuasa Iran, tapi dirinya kalau bisa memakai jilbab meski tidak selalu dirinya memakai jilbab.








